Silaturahim pekanan Pengurus Al Madani Dormitory bersama Jajaran Mudabbir pada Jumat, 6 Februari 2026, menjadi momentum penguatan kebersamaan dalam pendidikan berasrama. Pertemuan dihadiri 37 pengurus dan dipenuhi semangat kegembiraan. Forum tersebut menegaskan satu tujuan besar: menghadirkan lingkungan asrama yang sakinah agar pelajar tumbuh dengan jiwa tuma’ninah — tenang, aman, dan siap berkembang.
Kegiatan dibuka melalui ramah makan makan sehat bersama yang dipandu Ustdh. Iqlim Amaliya. Ustdh. Iqlim menekankan bahwa budaya makan sehat merupakan bagian dari pendidikan karakter. “Guru pembimbing harus menjadi teladan dalam kemandirian dan ketertiban,” ujarnya. Pemenuhan kebutuhan dasar seperti makan yang cukup dan sehat dipandang sebagai syarat penting terciptanya ketenangan dalam mendampingi pelajar, karena suasana nyaman berdampak langsung pada kualitas pembinaan.
Sesi tanggapan memperlihatkan antusiasme. Ust. Robert Nunang mengapresiasi perhatian dari Mudabbir dalam bentuk kegiatan yang mempererat kebersamaan sekaligus mengenalkan pola makan sehat. Ust. A. Rauf menyebut konsep silaturahim ini sebagai terobosan positif yang perlu berkelanjutan. Usth. Firly Alvia Yasmin merasakan kekuatan nilai kekeluargaan di lingkungan asrama, sementara Ust. Muhammad Rizki Mubarok menilai suasana forum menghadirkan rasa tuma’ninah yang memperkuat semangat pelayanan.
Pendalaman makna An-Nisa ayat 103 oleh Ust. Ana Mujahid menjadi landasan filosofis diskusi. Ust. Ana menjelaskan bahwa tuma’ninah adalah kesiapan total jiwa dan raga dalam mendidik. “Niat harus diiringi ilmu dan desain pembelajaran yang matang,” katanya. Pendidikan tidak boleh berhenti pada rutinitas, melainkan diarahkan sebagai proyek pembentukan manusia yang jujur, ikhlas, dan sadar tujuan.
Penyampaian materi silaturahim oleh Sekretaris Al Madani, Ust. Budiyanto. Ust. Budi menekankan kesetaraan sebagai kunci kedekatan dengan pelajar. “Jika ada kursi kita duduk di kursi, jika tidak ada kita duduk bersama di bawah. Itu simbol kesetaraan,” ujarnya. Menurutnya, rasa aman pelajar dimulai dari kehadiran pembimbing yang sejajar, bukan berjarak. Wali kamar diminta memprioritaskan hajat harian anak dan aktif membangun komunikasi dengan orang tua maupun manajemen.
Ust. Budi juga menekankan pentingnya pendampingan personal. Setiap pelajar perlu dikenali secara individu agar kebutuhan mereka tidak terabaikan. Ust. Budi mengingatkan bahwa pembimbing bertugas menghadirkan rasa cukup dan rasa aman, sehingga asrama benar-benar menjadi rumah kedua bagi pelajar.
Dalam arahannya, Ust. Budi memperluas pembahasan pada fase perkembangan kesadaran pelajar yang dibuat oleh Mudabbir Ust. Imam Muhajir Rahman dalam bentuk infografis. Ust. Budi mengibaratkan pertumbuhan anak seperti metamorfosis ulat menjadi kupu-kupu. Fase pertama adalah ketidaktahuan diri, ketika anak perlu dikenalkan jati dirinya oleh orang dewasa. Fase kedua pengenalan diri, di mana pelajar mulai memahami identitas, kelebihan, dan kekurangan. Fase ketiga adalah penerimaan diri, yakni kemampuan menerima kondisi pribadi tanpa rasa rendah diri.
Fase keempat adalah kepercayaan diri, ketika pelajar berani mengeksplorasi pengalaman. Fase kelima kemandirian, yaitu kemampuan menjalankan aktivitas dasar secara mandiri. Puncaknya adalah kesadaran filosofis: terbentuknya konsep diri positif, tanggung jawab sosial, dan kematangan pribadi. Menurut Ust. Budi, tugas wali kamar adalah memastikan setiap fase dibersamai dengan sabar agar perkembangan anak berjalan utuh.
Forum ditutup dengan pesan sederhana namun mendalam. Ust. Budi mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan dan kegembiraan. “Senyum adalah ciri manusia yang tuma’ninah,” katanya. Silaturahim malam itu meninggalkan kesadaran kolektif bahwa pendidikan berasrama bukan sekadar program kerja, melainkan proyek kemanusiaan jangka panjang. Dari asrama yang sakinah diharapkan lahir generasi yang tenang, percaya diri, dan siap menghadapi masa depan. (Budiyanto)


Terus bersama menciptakan kondisi aman dan nyaman. Dimulakan dari tuma'ninah.
BalasHapus