Dari Sapta Janji hingga Arahan Mudabbir: Evaluasi Pekanan Dormitory Al Madani Menyambut Visi Syaykh Al-Zaytun

asrama
0

Evaluasi Pekanan Pengurus Dormitory Al Madani yang digelar pada Jumat malam, 20 Februari 2026, menjadi forum refleksi sekaligus penguatan arah gerak pengabdian para pembimbing asrama. Kegiatan yang berlangsung pukul 20.30 hingga 22.15 WIB ini dihadiri 34 peserta, sementara 13 orang tidak hadir dengan rincian izin, sakit, relaksasi, dan tanpa keterangan. Forum dipimpin oleh Mudabbir Ust. Imam Muhajir Rahman dan Ust. Marzuki. Sejak awal, suasana forum terasa khidmat dan terarah, menandai keseriusan peserta dalam menjaga kualitas kehidupan bersama di lingkungan asrama.

Kegiatan dibuka dengan pembacaan Basmalah dan Sapta Janji Darma Bakti, yang dibawakan secara bergantian oleh Ust. Lahmudin (Bahasa Indonesia), Ust. Umar Hadid (Bahasa Arab), dan Ust. Dwi Mahartono (Bahasa Inggris). Pembacaan ini menjadi fondasi moral pertemuan, menegaskan kembali nilai pengabdian, kedisiplinan, serta tanggung jawab kolektif sebagai pembimbing pelajar dalam ekosistem pendidikan berasrama.

Laporan dari Petugas Manajemen disampaikan oleh Penjab bagian Administrasi, Ust. Sofngali, yang menyampaikan kesiapan Belajar ke Masyarakat. Ia melaporkan dua pelajar masih menunggu pengiriman BIT dari rumah dan enam lainnya masih dalam proses administrasi. Selain itu, pembimbing dijadwalkan aktif mendampingi pelajar selama Ramadan, mulai dari salat Tarawih di MRLA, memastikan sahur setiap Subuh, hingga pelaksanaan tadarus bersama di selasar tengah. Para pembimbing sendiri ditargetkan menyelesaikan tadarus dua juz per hari dengan kewajiban tanda tangan pelaksanaan tadarus di Kantor 130 sebagai bentuk tanggung jawab.

Memasuki arahan Wakil Mudabbir, Ust. Marzuki menekankan pentingnya kesiapan menyambut kegiatan belajar ke masyarakat dengan memperhatikan kesehatan dan kerapian pelajar. Ia juga menindaklanjuti arahan Syaykh Al-Zaytun terkait keterlibatan guru sebagai pengawas kebun durian di Cijambe. Dalam refleksi mendalam, ia mengutip ungkapan Arab “al-ridha bisy-syai’ ridha bima yatawalladu minhu”, bahwa kerelaan terhadap suatu amanah berarti kesiapan menerima seluruh konsekuensi yang lahir darinya. Menurutnya, setiap keputusan mengandung kontrak tanggung jawab yang menuntut kesiapan mental, fisik, dan waktu.

Ust. Marzuki juga mengajak peserta memaknai syukur sebagai istiqamah menjaga amanah yang telah ada. Ia menggambarkan bahwa seorang pengikut sering tidak melihat beratnya perjuangan pemimpin yang membuka jalan menuju masyarakat ideal (Baldatun Tayyibatun). Karena itu, visi pribadi seorang guru harus selaras dengan nilai ilahiah dan menjadi pemantik untuk bekerja sepenuh hati, bukan sekadar menjalankan rutinitas.

Sesi tanggapan qobliyah menunjukkan antusiasme peserta. Ust. Dwi Mahartono menilai model pelaporan yang disampaikan pada forum qobliyah Jumat sebagai contoh komunikasi yang perlu ditiru. Ust. Umar Hadid mengaku tersentuh oleh qobliyah dua pekan terakhir dan berharap pengelolaan durian dapat berkembang hingga menembus pasar internasional. Sementara Ust. Ibnu Abdillah menegaskan bahwa keterlibatan langsung dalam pengawasan lahan merupakan bentuk nyata rasa syukur atas amanah sumber daya yang dimiliki bersama.

Arahan utama kemudian disampaikan oleh Mudabbir Ust. Imam Muhajir Rahman, yang menegaskan bahwa evaluasi pekanan bukan sekadar agenda rutin, melainkan komitmen strategis menjaga kualitas hidup kolektif. Ust. Imam mencontohkan monitoring intensif yang dilakukan Syaykh Al-Zaytun terhadap lebih dari 160 hektare lahan secara detail dan terukur sebagai standar kerja yang harus diteladani. Setiap amanah, menurutnya, harus dijalankan dengan presisi, berbasis data, dan kesungguhan.

Dalam perspektif Ramadan, Ust. Imam mengajak peserta memaknai puasa sebagai proses peningkatan kualitas diri. Ust. Imam menjelaskan tiga tingkatan puasa dalam tasawuf—awam, pengendalian diri, hingga kesadaran hati—seraya menegaskan bahwa indikator keberhasilan puasa tidak hanya ibadah ritual, tetapi juga kesehatan, kedisiplinan kerja, dan stabilitas perilaku. Pendampingan pelajar, termasuk saat sahur, harus dilakukan dengan pendekatan humanis dan kondusif.

Mudabbir juga menyoroti pentingnya kesehatan preventif, pengendalian pola konsumsi, serta kedekatan dengan lingkungan positif sebagai faktor pembentuk kualitas individu. Dalam konteks pengembangan kebun durian Cijambe, Ust. Imam memaparkan potensi ekonomi besar yang dapat dicapai melalui pengelolaan sistematis, sekaligus menjadikannya media pembelajaran tanggung jawab dan kerja kolaboratif bagi para guru.

Forum mencapai titik penting ketika pembahasan kesiapan menjadi pengawas kebun durian dibuka. Para pembimbing yang direkomendasikan diminta menyatakan komitmen secara sadar. Ust. Teguh menjadi peserta pertama yang menyatakan kesiapan, diikuti daftar calon pengawas lain yaitu Ust. Ibnu, Ust. Yusuf, dan Ust. Sofngali. Mereka diharapkan mempersiapkan diri secara fisik maupun perlengkapan lapangan sebagai bentuk kesungguhan menjalankan amanah baru.

Menutup arahannya, Ust. Imam menegaskan bahwa seluruh program harus bermuara pada pembentukan keteladanan nyata bagi pelajar. Nilai-nilai yang diajarkan Syaykh Al-Zaytun harus diterjemahkan secara kontekstual, aplikatif, dan relevan dengan kehidupan modern. Dengan semangat syukur yang diwujudkan melalui konsistensi kerja, Ust. Imam mengajak seluruh pembimbing menjaga disiplin, kesehatan, serta kualitas pengabdian sebagai fondasi keberlanjutan pendidikan berasrama. Evaluasi malam itu pun berakhir bukan sekadar sebagai silaturahim pekanan, melainkan penguatan tekad bersama untuk melangkah lebih terarah dan bertanggung jawab dalam setiap amanah yang diemban. (Budiyanto)

Tags

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default