Pertemuan Manajemen Asrama dan wali pelajar di Kafe Kita pada Sabtu, 7 Februari 2026, berkembang menjadi forum dialog yang hidup. Dari 102 wali, sebanyak 47 hadir langsung mengikuti rangkaian acara yang diwarnai penampilan seni pelajar, pembacaan Al-Qur’an, hingga diskusi pendidikan. Pertemuan ini menjadi ruang terbuka untuk menyatukan pandangan orang tua dan manajemen mengenai arah waktu belajar di masyarakat bagi pelajar di tengah dinamika kehidupan masyarakat.
Acara dibuka dengan penampilan seni vokal pelajar yang menghadirkan suasana hangat dan penuh kebanggaan. Qubaila Maulida Hasna serta Raden Azalia Naura Nur Madinah dari kelas 8, bersama Eka Putri Nurhandayani dari kelas 6, menampilkan kemampuan vokal yang percaya diri di hadapan wali mereka. Suasana kemudian menjadi khidmat saat Muhammad Alfath Zelenyy dan Muhammad Syahir dari kelas 5 membacakan sekaligus menerjemahkan Surah Al-Fil ayat 1–5, memperlihatkan keseimbangan antara pembinaan seni, intelektual, dan spiritual.
Dalam sesi sosialisasi tabungan pelajar, Usth. Lu’lu Adninafiah memaparkan perkembangan sistem transaksi non tunai berbasis kartu yang tengah disiapkan. Ia menjelaskan bahwa sistem ini dirancang untuk meningkatkan keamanan, transparansi, dan kemandirian pelajar dalam mengelola keuangan. Wali pelajar nantinya dapat memantau saldo serta riwayat transaksi secara real time melalui akses daring, sehingga kontrol keuangan berjalan terbuka dan terukur.
Penyampaian utama disampaikan oleh Ust. Khairul Amri Pratama. Ia menjelaskan bahwa Al-Zaytun dikenal sebagai lembaga pendidikan yang konsisten memperjuangkan makna dan kebenaran pendidikan. Konsistensi itu, menurutnya, pernah ditunjukkan ketika gagasan sistem semester dipaparkan kepada Komisi Pendidikan DPR RI pada awal 2000-an dan akhirnya diterapkan secara nasional. Prinsip mencari kebenaran, menyepakatinya bersama, lalu menjalankannya secara konsisten menjadi fondasi arah kebijakan pendidikan.
Ia menambahkan bahwa prinsip tersebut juga diterapkan dalam meluruskan pemahaman keagamaan, khususnya terkait makna Idul Fitri. Idul Fitri dimaknai sebagai perayaan setelah latihan menahan diri selama Ramadan, bukan sekadar simbol kembali nol. Ramadan sendiri dipahami sebagai bulan perjuangan dan latihan ketangguhan, bukan alasan melemahkan aktivitas belajar. Dalam konteks kebijakan pendidikan, ia mengingatkan bahwa libur yang terlalu sering berpotensi mengganggu kontinuitas pembinaan dan membawa pengaruh yang kurang kondusif, sehingga keseimbangan antara kebutuhan keluarga dan keamanan pendidikan harus dirancang secara matang.
Menanggapi hal tersebut, Ibu Reni, wali Fatir Adi kelas 11, menyampaikan pandangan yang menekankan dimensi sosial keluarga. Menurutnya, Idul Fitri adalah momentum tahunan yang memiliki makna emosional kuat sebagai ruang berkumpul keluarga besar lintas generasi. Ia khawatir jika anak tidak pulang saat lebaran, akan muncul pertanyaan sosial dari lingkungan sekaligus berkurangnya kesempatan anak mengenal jaringan kekerabatan. Ia memahami pentingnya stabilitas pendidikan, namun berharap kebijakan tetap memberi ruang agar anak dapat merasakan tradisi keluarga yang menjadi bagian dari pembentukan identitas sosialnya.
Pandangan lain disampaikan Bapak Agustriadi sebagai perwakilan koordinator wali Jakarta Selatan. Ia menilai setiap keputusan pendidikan pasti memiliki risiko, baik ketika memilih libur panjang maupun mempertahankan ritme belajar. Sejak awal memilih lingkungan pendidikan ini, menurutnya, orang tua sudah menyadari adanya konsekuensi perbedaan dengan kebiasaan masyarakat umum. Yang paling utama, tegasnya, adalah menjaga kualitas hubungan orang tua dan anak melalui komunikasi yang sehat, pendampingan konsisten, serta kepercayaan terhadap sistem pendidikan. Baginya, keseimbangan antara kebutuhan keluarga dan keberlanjutan program dapat dicapai selama semua pihak saling terbuka.
Dialog ditutup dengan kesadaran bersama bahwa pendidikan membutuhkan kolaborasi jangka panjang antara keluarga dan lembaga. Perbedaan pandangan dipahami sebagai bagian dari proses mencari formulasi terbaik. Dari diskusi yang jujur dan rasional, tumbuh komitmen bersama untuk menjaga keamanan pelajar, keberlanjutan pendidikan, serta kekuatan ikatan keluarga sebagai fondasi tumbuhnya generasi yang tangguh dan berdaya. (Budiyanto)

.jpeg)



.jpeg)

Alhamdulillah, konsistensi kegiatan silaturahim bersama wali pelajar terus berjalan dengan baik dan berdinamis
BalasHapus