Ketika Pelajar Berlatih Menjadi Negarawan

asrama
1

Di Saat Banyak Sekolah Sibuk Mencetak Nilai, Al Zaytun Sibuk Menyiapkan Manusia yang Siap Memimpin

Pada 03 Februari 2026, Gedung Serba Guna Al Akbar tidak sekadar menjadi tempat kampanye organisasi pelajar. Ruang itu menjelma menjadi ruang latihan kesadaran, tempat para pelajar Al Zaytun belajar memahami arti tanggung jawab sebelum mereka benar-benar memegangnya.

Sepuluh kandidat presiden Organisasi Pelajar Al Zaytun berdiri di hadapan sesama pelajar bukan sebagai sosok yang mengejar sorak-sorai, melainkan sebagai manusia yang telah ditempa oleh proses panjang. Mereka sampai di titik ini bukan karena popularitas, tetapi karena kesediaan untuk diuji, disaring, dan direndahkan oleh disiplin.

Proses itu dimulai jauh hari melalui Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK)—sebuah tahap awal yang tidak hanya melatih keberanian, tetapi membentuk cara berpikir. Dari ratusan pelajar, seleksi mengerucut menjadi 100 besar, kemudian 30 besar, hingga akhirnya 10 besar yang harus melewati rangkaian ujian ketat: tes kesehatan, tahfidz, wawancara, psikotes, dan berbagai pengujian lainnya. Semua dirancang bukan untuk mencari yang paling pandai berbicara, tetapi yang paling siap memikul amanah.

Rangkaian ini menyerupai proses pemilihan presiden sebuah negara. Istilah-istilah kenegaraan digunakan secara sadar—presiden, kementerian, majelis permusyawaratan—bukan sebagai simbol kosong, melainkan sebagai latihan berpikir besar. Pelajar diajak keluar dari dunia kecilnya untuk memahami bahwa kepemimpinan selalu terkait dengan sistem, tanggung jawab, dan keberpihakan pada kepentingan bersama.

Di balik seluruh proses tersebut, mengalir tunjuk ajar Syaykh Al Zaytun yang penuh filosofi, sering kali tidak biasa, bahkan melampaui pakem pendidikan umum. Pelajar tidak diarahkan untuk berambisi meraih jabatan, tetapi disadarkan bahwa memimpin berarti bersedia melayani, dan bahwa kekuasaan tanpa akhlak hanya akan melahirkan kehancuran.


Kampanye di Al Zaytun bukan panggung janji, melainkan ruang uji kedewasaan. Para pelajar belajar berbicara dengan nalar, mendengar dengan hati, dan bersikap dengan tanggung jawab. Mereka ditunjukkan wawasan yang luas dan jauh ke depan—tentang bangsa, peradaban, dan peran manusia di dalamnya.

Di sinilah letak kekhasan Al Zaytun. Pendidikan tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi bergerak lebih dalam: membentuk manusia yang utuh—kuat pikirannya, jernih jiwanya, dan lurus niatnya.

Pada akhirnya, yang berlangsung di Gedung Al Akbar hari itu bukan sekadar pemilihan presiden pelajar. Ia adalah latihan sunyi membangun peradaban, tempat para pelajar belajar menjadi manusia yang pantas dipercaya, sebelum suatu hari dipercaya memimpin. (Ridaningsih)

Tags

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Alhamdulillah selamat dan sukses pemilihan raya calon presiden santri Alzaytun,masa bakti ke 23 semoga selalu sehat paripurna lancar sukses jaya Amin ya robbalalamin 🤲🤲🙏🥰

    BalasHapus
Posting Komentar
3/related/default