Silaturahim rutin pekanan bersama
wali pelajar yang digelar di Kafe Kita Al-Zaytun, Sabtu sore, 24 Januari 2026,
menjadi ruang dialog terbuka antara manajemen asrama dan orang tua pelajar,
khususnya terkait penguatan sistem tabungan pelajar dan rencana penerapan
sistem non-tunai (cashless). Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 16.00
hingga 17.20 WIB itu dihadiri jajaran mudabbir asrama, tim Tabungan Majelis
Pengendali Asrama Pelajar (MPAP) serta para wali pelajar dari berbagai daerah.
Dalam pemaparannya, Penjab Tabungan MPAP, Ustadz Teguh Sulistiono, S.Pd.I., M.P., menjelaskan bahwa sistem tabungan pelajar telah berjalan sejak 2017 dan terus mengalami penyempurnaan. Ia mengungkapkan, dinamika di masa awal pengelolaan tabungan menjadi pelajaran penting, yang kemudian mendorong penguatan sistem pengawasan dan penitipan melalui lembaga resmi. Pada masa pandemi Covid-19, alur pengelolaan tabungan disesuaikan dengan hajat transaksi pelajar di sarana umum seperti toko dan kantin.
Ustadz Teguh juga menyinggung tantangan besar pada 2023, ketika rekening Al-Zaytun, termasuk tabungan pelajar, sempat disita Bareskrim. Atas arahan Syaykh Al-Zaytun, dana tersebut kemudian diganti oleh Yayasan Pesantren Indonesia (YPI) sebagai bentuk tanggung jawab lembaga. Sejak saat itu, pengelolaan tabungan pelajar bekerja sama dengan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) untuk menjamin keamanan dana, meski proses validasi transaksi masih memerlukan waktu karena belum bersifat real time.
Kondisi tersebut, menurutnya, memicu munculnya praktik penggunaan uang tunai di kalangan pelajar yang berdampak pada dinamika sosial negatif, mulai dari pinjam-meminjam, kehilangan uang, hingga berjualan. Menjawab persoalan itu, pengurus OPMAZ mengusulkan penerapan sistem cashless berbasis kartu dan aplikasi. Gagasan ini mendapat persetujuan Syaykh Al-Zaytun, meski kerja sama dengan perbankan sempat terkendala. Solusinya, alumni Al-Zaytun mengembangkan aplikasi khusus yang kini tengah dipersiapkan dengan dukungan server lokal kampus demi menjamin keamanan dan privasi data pelajar.
Ke depan, sistem cashless ini akan didukung perangkat EDC di seluruh unit usaha kampus, seperti toko, kafe, dan laundry. Melalui sistem tersebut, transaksi diharapkan tercatat real time dan wali pelajar bisa mengecek transaksi pelajar langsung di ponsel mereka. Manajemen juga merancang pengaturan batas belanja pekanan agar pola konsumsi pelajar tetap terkontrol. Selain itu, kebijakan pengadaan alat kebersihan yang ditunaikan melalui tabungan dinilai memberi dampak positif terhadap kebersihan lingkungan asrama.
Dalam sesi tanya jawab, Bapak Winarno, wali pelajar asal Jakarta Selatan, mengapresiasi rencana sistem cashless dan mengusulkan pemanfaatan QRIS, serta antisipasi kehilangan kartu. Menanggapi hal itu, manajemen menegaskan bahwa wali kamar tetap berperan penting dalam pendampingan, khususnya bagi pelajar tingkat MI, di mana kartu transaksi akan disimpan oleh wali kamar dan digunakan dengan pendampingan saat berbelanja. Silaturahim ini ditutup dengan evaluasi internal panitia, yang mencatat berbagai catatan teknis sebagai bahan perbaikan untuk pelaksanaan kegiatan serupa di masa mendatang. (Budiyanto)


.jpeg)

Alhamdulillah dengan adanya kegiatan seperti ini jadi kita bisa terus terhubung antara asrama dengan wali santri kaitan dengan pelajar” kita
BalasHapusAlhamdulillah, Al-Zaytun selalu berdinamika dalam menyempurnakan sistem menjadi lebih baik
BalasHapus