Langkah-langkah kecil bergegas mendekati papan mading, jari-jari mungil menunjuk gambar berwarna, lalu terdengar suara anak-anak membaca pelan bersama teman-temannya. Pemandangan sederhana ini menjadi keseharian yang menyenangkan di Asrama Persahabatan, tempat para pelajar Madrasah Ibtidaiyah (MI) memulai “petualangan literasi” mereka melalui bacaan-bacaan ringan yang penuh makna.
Kegiatan literasi terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya menumbuhkan budaya baca sejak dini. Salah satunya diwujudkan melalui aktivitas membaca mading yang diikuti oleh para pelajar Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Asrama Persahabatan. Kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran yang menyenangkan dan mudah dijangkau oleh pelajar dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan asrama.
Melalui mading, para pelajar diperkenalkan pada berbagai bacaan ringan yang edukatif, mulai dari cerita inspiratif, informasi pengetahuan umum, hingga pesan-pesan moral dan kebersihan lingkungan. Media mading dipilih karena mudah diakses, menarik secara visual, serta mampu menumbuhkan rasa ingin tahu anak untuk membaca secara mandiri.
Berbeda dengan kegiatan belajar formal, aktivitas membaca mading ini bersifat terbuka dan tidak terikat jadwal tertentu. Para pelajar dapat membaca kapan saja, baik di sela waktu istirahat, setelah kegiatan belajar, maupun pada waktu luang lainnya. Fleksibilitas ini memberikan ruang bagi anak untuk menumbuhkan kebiasaan membaca secara alami tanpa merasa tertekan.
Meskipun dilakukan secara mandiri, pembimbing asrama tetap memberikan pendampingan ringan dan motivasi apabila diperlukan. Sesekali pelajar diajak berdiskusi singkat mengenai isi bacaan atau diminta menceritakan kembali hal menarik yang mereka temukan, sehingga kemampuan memahami teks dan keberanian berpendapat dapat terus berkembang.
Antusiasme pelajar terlihat dari kebiasaan mereka mendatangi papan mading, membaca bersama teman, serta menunjuk tulisan atau gambar yang menarik perhatian. Interaksi sederhana tersebut menciptakan suasana asrama yang lebih hidup dan kondusif, sekaligus memperkuat fungsi asrama sebagai ruang belajar yang edukatif dan menyenangkan.
Ke depan, Asrama Persahabatan berkomitmen untuk terus mengembangkan program literasi dengan menghadirkan konten mading yang lebih variatif, serta mendorong keterlibatan pelajar dalam mengisi karya sederhana. Melalui langkah ini, budaya literasi diharapkan tumbuh kuat dan menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian pelajar MI di lingkungan asrama. (Achmad Irfan)


